Sunday, 30 November 2014

Daerah Penghasil Keramik yang Terkenal

Hasil Produk Keramik Indonesia
(c) indonesiakaya.com
Indonesia dikenal sebagai negara dengan seribu budaya, oleh karena itu muncul bermacam-macam produk hasil kebudayaan tersebut. Salah satunya adalah keramik yang merupakan produk kebudayaan yang bisa dikatakan paling tua, terbukti dengan ditemukannya berbagai macam produk berupa tembikar pada masa lampau.  Hal tersebut  menjadi faktor para pelaku usaha untuk membuat berbagai macam produk keramik di daerah mereka masing-masing sesuai dengan kekhasan yang dimiliki. Pada mulanya diawali dengan indutri rumahan seperti di Singkawang-Kalimantan Barat, Plered-Jawa Barat, Dinoyo-Malang, Klampok-Jawa Tengah dan daerah lain yang akan di jabarkan sebagai berikut.

1. Keramik Singkawang
Singkawang merupakan lokasi pengolahan keramik terbesar di Kalimantan Barat selain di Siantan, Terdapat 7 perusahaan tetapi hanya 4 yang bertahan akibat kongkurensi dalam dunia usaha. Menurut cerita daerah tersebut telah memproduksi keramik mulai abad ke-17 saat imigran China menetap disana, selain membawa produk keramik mereka juga membawa keterampilan mengolah bahan dan membuat keramik. Salah satu yang masih bertahan adalah Sa Liung atau Padang Pasir, Sakok, memproduksi tiruan keramik kuno gaya China, tempayan atau martaban, mangkuk, jambangan, dan guci yang bergaya Ming. Keramik antik gaya China produksi Singkawang yang mirip dengan aslinya banyak di ekspor ke Hongkong, Singapura dan Eropa.


Hasil Produk Keramik Indonesia
(c) news.liputan6.com
2. Keramik Plered dan Citeko
Plered terletak di daerah Purwakarta, Jawa Barat. Salah satu perusahaan yang dipimpin Asep Abu Bakar dari PT.Asep Kwalita Keramik (AKK), mempunyai potensi besar dan telah masuk persaingan pasar dunia. Perusahaan ini mengandalkan corak dan desain yang baru dan terus-menerus dikembangkan, dan akhirnya pada tahun 1989 memperoleh penghargaan “Upakarti” dan sering mengikuti pameran di luar negeri.  Banyak pengusaha Belanda datang ke daerah ini dan meminta pengiriman barang secara rutin. Selain Asep, terdapat nama Samani, seorang pekerja keramik yang kemudian merintis usaha sejak tahun 1983, Samini banyak mengikuti lomba keramik di TMII dan menjadi juara pertama, sehingga produk keramiknya semakin terkenal. Dua orang tersebut tercatat sebagai pejuang keramik di Plered sehingga menjadi seperti sekarang ini.
Keramik Plered bentuknya cukup beragam karena dipengaruhi oleh akademisi dari IKJ dan ITB. Untuk mendukung produksi keramik Plered, pada tahun 1975 BPIK mendirikan Unit Percontohan Keramik dan 5 tahun kemudian mendirikan Unit Pelayanan Teknis, yang menyediakan bahan baku tanah liat yang telah diolah serta bahan glasir siap pakai.


Hasil Produk Keramik Indonesia
(c) disparbud.jabarprov.go.id
3. Keramik Klampok Banjarnegara
Daerah yang terletak di Jawa Tengah ini terdapat 4 pengusaha kecil yang cukup menonjol. Diantaranya Keramik Meandalai, PT Keramik Banjarnegara, Usaha karya, dan Mustika. Produk yang dihasilkan bentuknya sangat beragam dari bentuk fungsional sampai hiasan. Motif yang banyak dipakai adalah bunga-bunga, tumbuhan, hewan dan figur manusia, yang lebih menarik adalah motif pewayangan dan batik. Keramik Klampok telah mengalami penyelarasan dengan budaya asli Indonesia, dimana ragam hias cukup menonjol dan laku di pasaran. Disamping itu mereka juga membuat keramik bergaya Ming dari China, namun dimodifikasi menjadi bentuk ala mereka.


Hasil Produk Keramik Indonesia

4. Keramik Kiara Condong
Kiara Condong, Bandung adalah salah satu industri kermik rakyat yang pantas di tonjolkan, tersebut dua nama kakak beradik yakni Itong dan Pakih yang menggeluti keramik sejak 1930-an. Usaha pertamanya di kota Garut yang memproduksi piring, cangkir, celengan dan wadah lainnya yang diberi nama “Itong Saputra”. Dari tahun ke tahun pesanan terus meningkat diiringi jumlah karyawan yang terus bertambah dan akhirnya mendirikan pabrik pada tahun 1970 dan terus bertambah menjadi 12 pabrik. Cucu Itong yang bernama Didi Iskandar, sejak usia 26 tahun dipercaya untuk mengelola sebuah pabrik yang kemudian banyak kemajuan, seperti mengikuti pameran lokal maupun internasional. Keramik yang diproduksi banyak dipengaruhi oleh gaya mahasiswa ITB yang praktek kerja di tempatnya dan juga para seniman Bandung. Kontrak kerjasama dengan negeri Kincir Angin diperolehnya dan pengusaha dari Belanda ikut mempromosikan produknya. Produk keramik Kiara Condong sangat beragam, ada yang ala China, Jepang, Vietnam, Thailand, Eropa dan tradisional Indonesia.


Hasil Produk Keramik Indonesia
(c) tribunnews.com
5. Keramik Dinoyo
Terletak di Dinoyo Kecamatan Klojen Malang, terdapat sepuluh perusahaan dan beberapa unit usaha kecil lainnya. Diantaranya adalah Djoko Suheri, Keramik Unit Betek, Keramik Pendowo, Keramik Samsuri dan lain-lain. Dirintis sejak tahun 1950-an, H Achmad Rowie adalah perajin kawakan yang pada tahun 1943 (zaman Jepang) sudah membantu orang tuanya membuat produk keramik berglasir. Namun pada tahun 1965 banyak perusahaan keramik gulung tikar dilanda revolusi dan sulit mendapatkan bahan bakar minyak, usaha Rowie mulai bangkit kembali tahun 1966 sejak pemerintah mendirikan REPELITA  yang membangkitkan semangat perajin dan pengusaha untuk mengembangkan usahanya. Pemerintah memberi pekerjaan pengusaha di daerah ini untuk memproduksi penyimpul kawat instalasi listrik. Perkembangan keramik dinoyo cukup pesat sehingga tidak lagi tergantung pada perusahaan negara dan berani bersaing dengan hasil produk industri besar, tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama karena pertambahan dan perubahan bahan dan alat yang lebih rumit dengan standar khusus diluar jangkauan pengrajin Dinoyo. Produksi keramik juga meniru keramik gaya China dan menggabungkan dengan gaya Eropa terutama gaya Delf (Belanda), yaitu hisan warna biru, hijau dan coklat. Pemasaran keramik sampai ke luar negeri seperti Australia, Belanda, Singapura, dan Jepang.


Hasil Produk Keramik Indonesia

6. Keramik Bali
Daerah Pejaten di Kabupaten Tabanan, Gianyar, Karangasem, Buleleng, Jembrana, dan Denpasar itulah daerah yang terkenal sebagai sentra Keramik Bali. Berlangsungnya pembuatan gerabah tradisi di Bali karena diperlukan untuk upacara peribadatan agama Hindu yang bahannya dari tanah dan tidak boleh diganti dengan bahan lain. Sentra pembuatan keramik di Bali terdapat 27 lokasi, yang menarik adalah proses pembuatan gerabah tradisional yakni seolah-olah pengrajin menari-nari dalam megendalikan gumpalan yang tidak bergeser, teknik ini merupakan peninggalan pra-sejarah.
Pengarajin yang cukup kondang adalah I Wayan Kuturan, yang tinggal di Tabanan, sejak kecil telah menekuni pembuatan keramik tradisional yakni patung yang ditempatkan pada bangunan suci (kelentingan) dan peralatan upacara leluhurnya. Suatu hari dia kedatangan seorang pelukis bernama Kay It yang kemudian banyak memberi inspirasi pada karya-karya Kuturan dan turut membantu pemasaran produknya. Akhirnya gaya “kuturan” menjadi tradisi masyarakat sekitar dan ditiru oleh para pengrajin lainnya yang banyak digunakan untuk hiasan hotel di Bali. Banyak wisatawan yang membeli dan diekspor  ke luar negeri seperti Australia, New Zeland, Belanda, Italia, Jerman, Inggris dan Perancis. Pada tahun 2005 Kuturan memperoleh penghargaan “Anugerah Riset Kabangkitan Tehnologi” dari pemerintah Indonesia.
Gerabah Bali mengalami booming pada tahun 1980 sampai 1990-an, sehingga pemerintah merintis pembentukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni Keramik dan Porselin untuk menunjang pariwisata. 


Hasil Produk Keramik Indonesia

7. Keramik Tegowanuh dan Kundisari
Berada di daerah Temanggung, Jawa Tengah yang banyak menghasilkan gebarah jembangan, kuwali, kendi (ada yang 3 corot), pot bunga dan bentuk peralatan rumah tangga lainnya. Bentuk gerabah sedikit banyak mendapat pengaruh dari keramik Kasongan dan banyak mendapat bimbingan dari Sapto Hudoyo. Pengrajin gerabah yang aktif adalah Suwandi yang membuat keramik hias dan mendapat bantuan dari Departemen Perindustrian, akan tetapi pemasarannya belum mulus dan hanya konsumsi lokal saja.


Hasil Produk Keramik Indonesia

8. Keramik Mayong
Keramik Mayong Jepara ini masih sangat tradisional, terdapat 300 unit usaha gerabah yang memproduksi keramik “remitan” atau benda keramik berukuran kecil dan unik, benda pesanan khusus ada yang di ekspor ke Perancis. Penampilan gaya ukiran Jepara dimulai tahun 1980-an dan mendominasi keramik Mayong. Pembinaan keramik mayong tidak terlapas dari IKIP Semarang Jurusan Seni Rupa. Akademisi yang langsung terjun adalah Drs. Punthadi, Dra. Sri Iswidayati dan lain sebagainya yang mengabdikan untuk kebangkitan produksi. Hasil produksi yang terkenal adalah wuwungan dekorasi untuk atap yang di beri hiasan pecahan beling atau porselin.


Hasil Produk Keramik Indonesia

9. Keramik Lombok
Terletak di 3 kabupaten dengan 50 pengusaha, Banyumulek sebagai pusat kerajinan gerabah yang sudah terkenal sejak tahun 1860. Keramik Lombok juga dikenal dengan “Tembikar  Sasak” dengan sebutan Pemongkag  menjadi bagian penting dalam  kegiatan ritual suku Sasak. Pada awalnya Banyumulek hanya memproduksi gentong untuk tempat air, periuk untuk menanak nasi dan tepak untuk bubungan rumah. Seorang bernama Rachmat membuat desain baru dan banyak diminati pada tahun 1981, Pemerintah Selandia Baru menjadi pelopor pemberi dana pelaksanaan Pengembangan Kawasan Terpadu dan Banyumulek menjadi prioritasnya. Masing-masing daerah Lombok mempunyai ciri tersendiri seperti Masbagik memanfaatkan dekorasi toreh dan motif geometris serta menggunakan kerang laut yang dicampur ke dalam bahan gerabah.  


Hasil Produk Keramik Indonesia
 (c) id.lombokindonesia.org
10. Keramik Bima dan Sumbawa
Keramik tradisional Bima memang sudah lama keberadaanya yang diwariskan turun-temurun. Selain untuk kebutuhan magis juga untuk keperluan sehari-hari dengan teknik pembuatan yang sangat sederhana. Mempunyai sentra keramik di 4 kecamatan yaitu Rasana’E, Bolo, Woha dan Sape. Gerabah tradisional bima sampai saat ini blum bisa dikatakan berkembang sebagaimana yang diharapkan, konsumen biasanya datang sendiri untuk memesan.


Hasil Produk Keramik Indonesia
(c) potretpedia.blogspot.com
11. Keramik Kayuagung dan Takalar
Berada di daerah Palembang Sumatra Selatan yang banyak membuat dekorasi hiasan kuno berupa ornamen-ornamen dan ukiran geometris “motif Sriwijaya” seperti motif kain Pelembang. Disini terdapat 180 unit usaha keramik madya dan gerabah tradisional. Selain membuat keramik untuk keperluan rumah tangga,  juga membuat hiasan dan patung keramik yang terlihat lugu dan magis.

Sumber: Mulyadi Utomo Agus, Drs. 2007. Wawasan dan Tinjauan Seni Keramik. Institut Seni Indonesia Denpasar: Paramita
loading...

2 comments: