Sunday, 16 November 2014

Keramik Era Kemerdekaan

Keramik Era Kemerdekaan
Perkembangan keramik setelah memasuki masa kemerdekaan tumbuh dari dua rahim, yaitu sektor indutri dan perorangan (akademisi). Perguruan Tinggi Seni Rupa banyak melahirkan para keramikus muda yang mengangkat citra keramik tradisional menjadi keramik modern yang lebih eksklusif dan menarik.   
Setelah kemerdekaan, para pelaku industri keramik seperti keramik pleret  masuk ke Jawa Tengah kemudian ke Jogyakarta. Akan tetapi dikarenakan tidak cocok di Jogya akhirnya balai penelitian dipusatkan di Bandung dan mengembangkan produk refactory, gelas, ubin keramik, porselen, isolator listrik, saniter dan keramik baru lainnya.


Pada tahun 1953 Oie Jong Tjio mendirikan perusahaan keramik putih pertama di Indonesia "Keramika Indonesia Asosiasi" atau KIA yang berada di Belitung, dan pada tahun 1972 para pengusaha keramik mendirikan "Asosiasi Aneka Keramik Indonesia" atau ASAKI yang akhirnya memberi gelar kepada Oie sebagai Bapak Industri Keramik Indonesia. Kebangkitan keramik diawali dengan KIA bekerjasama dengan Sphinx dari Belanda pada tahun 1968, dan pada saat itu banyak  penanam modal bekerja sama dengan Indonesia. 
Pada tahun sebelumnya 1962, salah satu perusahaan keramik "TOTO" masuk secara besar-besaran ke Indonesia dan menguasai pasar dalam negeri hampir 50 %, dalam rangka pengembangan industri Balai Penelitian Keramik di Bandung mengadakan pengembangan dan penelitian teknologi keramik serta pembinaan penggunaan mesin-mesin untuk keramik halus. 

Usaha pengembangan pabrik-pabrik di Indonesia sangat memungkinkan, karena bahan mentah yang cukup melimpah di pulau Bangka, Jawa, Kalimantan Barat dan Belitung. Dalam waktu kurun 2 dekade yang sejalan dengan berkembangnya ilmu dan teknologi, produksi keramik terus meningkat dan mempengaruhi peningkatan pendapatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Pada tahun 1972 hingga 1986 terbentuk beberapa organisasi keramik:

1. ASAKI (Asosiasi Aneka Keramik Indonesia) di Bandung, anggotanya seperti pejabat pemrintah, pengusaha keramik. Memproduksi bata api, mozaik, genteng, keramik dinding dan lantai, saniter, dan peraatan rumah tangga.

2. The Geoceramic Group
Yakni kumpulan para alumni ITB yang bertujuan untuk menyiapakan data-data keramik dan menyusun sumber daya manusia untuk meningkatakan dan mengembangkan perkeramikan Indonesia.

3. HKI (Himpunan Keramik Indonesia)
Tujuan himpunan ini untuk menggalakkan minat dan perhatian masyarakat padaseni keramik, terutama keramik kuno di Indonesia dengan mengadakan pameran dan penerbitan buku-buku keramik.

4. BPPT-UPT PSTKP BALI
Lembaga ini bentujuan untuk mengerahkan pemanfaatan potensi seni keramik di Bali, meningkatkan kegiatan perajin untuk menunjang kegiatan pariwisata dan ekspor komoditi.

5. Panitia Nasional Mineral dan Aluminium Silikat yang terbentuk pada tahun 1986 yang berpusat di BPPT yang bekerjasama dengan Depdiknas.


Sumber: Mulyadi Utomo Agus, Drs. 2007. Wawasan dan Tinjauan Seni Keramik. Institut Seni Indonesia Denpasar: Paramita
loading...

0 comments:

Post a Comment