Friday, 14 November 2014

Sejarah Keramik Hindu Budha

Sejarah Keramik Hindu BudhaSejarah pada umumnya menunjukkan bahwa agama dan kepercayaan merupakan motivator penting dalam pembuatan barang seni, misalnya seni primitif, seni Hindu Budha, seni Islam dan sebagainya.
Pada masa awal pengaruh agama Hindu, penggunaan batu untuk bangunan-bangunan sangat menonjol seperti yang terlihat dari peninggalan kerajaan Tarumanegara tahun 500 M. Pada zaman ini manusia lebih cenderung memakai batu dan logam untuk memvisualisasikan cita rasa keagamaannya, sehingga tidak banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan seni keramik, hanya pada akhir periode  yaitu zaman kerajaan Majapahit tampak sedikit perkembangan. Keadaan alam sekitar Majapahit yang tidak banyak bebatuan, sehingga para seniman dan tukang pada zaman itu beralih ke bahan tanah liat untuk memenuhi berbagai kebutuhan barang bangunan, alat rumah tangga, dan benda keagamaan.
Pada zaman Majapahit, barang-barang gerabah memperlihatkan kepekaan yang tajam terhadap perlakuan bahan, karakter tanah liat sangat menonjol. Pada zaman ini masyarakat telah mempunyai tingkat hidup yang tinggi terutama pertanian, pelayaran dan pengecoran logam sebelum datangnya pengaruh China dan India yang terlihat dari candi-candi di dataran tinggi Dieng.

Sejarah Keramik Hindu BudhaBerdasarkan catatan lama seni Hindu yang masuk di Indonesia, seperti seni sastra, arsitektur, pahat, memperlihatkan landasan agama yang mantap, sebaliknya hasil gerabah jenis Majapahit lebih banyak memperlihatkan potret kehidupan sehari-hari. 
Salah satu bentuk keramik yang berciri khas Indonesia adalah kendi, istilah kendi berasal dari bahasa sanskrit yaitu "kundhika" di India berarti tempat air. Dalam ikonografi India, kundika merupakan salah satu atribut dari dewa Brahma yang dalam agama Hindu merupakan atribut suci, benda yang mirip seperti kendi juga banyak ditemukan di daerah Jawa Tengah seperti yang terdapat pada relief candi Borobudur dan candi-candi Dieng. Kendi gerabah merah banyak di daerah Trowulan, Jawa Timur yang berbentuk bulat dan mempunyai hubungan erat pada kepercayaan masyarakat pada saat itu seperti "kendi susu" sebagai ciri khas kendi Majapahit.

Selain kendi, tempayan zaman Majapahit yang berukuran besar juga ditemukan yang berdiameter mencapai 60 cm dan dipergunakan sebagai tempat air. Poci bentuk bulat gepeng dengan hiasan motif melingkar dan tegak lurus juga ditemukan di daerah tersebut.
Selain di Trowulan, perkembangan seni keramik juga sampai ke daerah Bali. Dalam kepercayaan Hindu Bali perabotan keramik dipergunakan untuk upacara-upacara, baik dalam bentuk patung ataupun bentuk wadah. Keturunan kerajaan Majapahit, yaitu kerjaan Landak, Sambas dan Tanjung Pura banyak ditemukan keramik berglasir yang menunjukkan hasil perdangangan dengan China, terutama lewat ekspedisi Cheng Ho. 

Sumber: Mulyadi Utomo Agus, Drs. 2007. Wawasan dan Tinjauan Seni Keramik. Institut Seni Indonesia Denpasar: Paramita
loading...

0 comments:

Post a Comment