Saturday, 15 November 2014

Sejarah Keramik Islam

Sejarah Keramik Islam

Setealah kebudayaan Hindu Budha mulai tergerser, pembuatan keramik jenis gerabah dan genteng banyak dilakukan dan dikembangkan pada zaman Islam dan penjajahan Belanda. Hal tersebut dapat dilihat dari sisa-sisa bangunan besar seperti pusat kerajaan, benteng, masjid, makam, bahkan rumah tokoh masyarakat yang kesemuanya menggunakan genteng dan bata.

Pada abad ke-12 para pelajar dan pedagang Indonesia tidak banyak berlayar ke India selatan, melainkan ke Gujarat (India Barat). Di Gujarat inilah banyak bandar-bandar besar yang kebanyakan pedagang sudah memeluk agama Islam, yang kemudian para pedangang Indonesia belajar agama Islam dan menyebarkannya di Indonesia. Di Indonesia para pedangang banyak menyebar di pulau jawa yang banyak berhubungan dengan orang Malaka, yaitu bandar Jepara, Tuban dan Gresik. Oleh sebab itu saat itu Jawa menjadi pusat agama Islam.

Pada pemerintahan Islam, perkembangan keramik sebagai peralatan makan dan minum kurang mendapat perhatian. Kegunananya hanya sebagai pengganti batu dan kayu seperti bata dan genteng. Kebutuhan peralatan makan dan minum dari keramik muncul setelah terjadi sentuhan kebudayaan Barat, Eropo, China, India, dan Persia yang dibawa oleh bangsa Portugis. Kebutuhan atas benda keramik berawal dari para saudagar, pembesar, dan bangsa asing yang datang. Benda-benda keramik kemudian didatangkan dari China, Jepang, Vietnam, dan Filiphina. Pengiriman benda-benda keramik tersebut melalui pelabuhan Sunda Kelapa yang kemudian pada abad ke-16 dikuasai oleh Belanda. Dari sinilah keramik-keramik asing singgah yang kemudian diperdagangkan dan semuannya mencapai 4.448 fragmen yang terdiri dari piring, mangkuk, dan botol-botol indah.

Sumber: Mulyadi Utomo Agus, Drs. 2007. Wawasan dan Tinjauan Seni Keramik. Institut Seni Indonesia Denpasar: Paramita
loading...

0 comments:

Post a Comment