Wednesday, 3 December 2014

Sejarah Gerakan Seni Rupa Progresif

Dilihat dari sejarah munculnya pendidikan seni rupa, seni rupa memang terbagi atas beberapa masa. Dalam masing-masing masa, pendidikan seni rupa mempunyai tempat dan kondisi tersendiri. Pada penjelasan berikut ini akan dijelaskan sejarah pendidikan seni rupa masa 1920 - 1940.  

Masa 1920-1940
Senirupa Sebagai Ekspresi Pribadi

Sejarah Gerakan Seni Rupa Progresif Menjelang awal-awal tahun 1920-an seni rupa anak-anak secara luas dianggap sebagai bentuk seni rupa orang dewasa yang masih belum matang, sedangkan seni rupa orang dewasa seolah-olah sebagai kumandang dari karya seni rupa dari tokoh klasik. Armory-Show merupakan pameran seni rupa modern besar pertama di Amerika yang diselenggarakan di New York tahun 1913. Seni rupa “new style” memperlihatkan bahwa daya kreatif mampu mengetuk ke dalam batin manusia, yakni alam bawa sadarnya menjelajahi struktur dan bentuk visual serta mentransformasikan tanggapan atas waktu ruang dan gerak.

Bentuk-bentuk ekspresi yang lebih baru sedang dijelajahi dalam dunia seni rupa bersama dengan kecenderungan teori pendidikan, membantu terbentuknya konsep seni rupa sebagai ekspresi. Dalam pandangan Dewey, anak-anak hendaknya diperlakukan sebagai pelajar yang daya kreatifnya dipusatkan pada diri dan dunianya. Menurutnya, penalaran aktif ikut berusaha dan memahami dalam membuat keputusan adalah cara efektif dan wajar dalam proses belajar anak.
Para pendidik mulai menyadari bahwa ekpresi pribadi anak dalam seni mempunyai integritasnya sendiri. Ekspresi pribadi bukan hanya sangat mendasar bagi kedewasaanya di kemudian hari. Konsepsi ekspresi pribadi yang kreatif merupakan suatu yang radikal pada zamannya sehingga tidak diterima pada tahun-tahun sesudah Perang Dunia II. Pada saat itu karya seni anak-anak dihargai secara luas sebagai cabang seni yang sah karena ciri-ciri yang berbeda dengan karya orang dewasa.

Senirupa Untuk Keperluan Sehari-hari  

Sejarah Gerakan Seni Rupa Progresif Dalam masa resesi 1900-an, tidak ada hal yang lebih penting daripada pekerjaan. Guru-guru seni rupa terpaksa mencari bahan murah, gratis, atau barang bekas untuk mengadakan pameran seni rupa di sekolah. Karena mahalnya barang-barang keperluan rumah tangga, siswa dituntut untuk membuat benda praktis namun artistik. Para guru juga memperkenalkan kemungkinan memperoleh penghasilan dari seni rupa dengan mengaplikasikan desain terapan untuk iklan, interior dan kerajinan tangan. Akibatnya segi praktis dan kemasyarakatan dari seni rupa lebih mendapat perhatian dari pada segi kreatif.
Konsepsi seni rupa untuk keperluan sehari-hari merupakan dasar pelaksanaan program eksperimen yang luar biasa yang berlangsung pada tahun 1930-an. Dengan mendapat hibah dari yayasan Carnegie, kota kecil di Minnesota yang dijadikan pusat keterlibatan masyarakat dalam senirupa. 

Pada saat itu pemerintah mempunyai program 5 tahun yang mengatur tentang kebijakan seni rupa untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari yakni dalam hal penataan kota, desain interior daneksterior, arsitektur, penataan taman kota, perancangan busana, alat rumah tangga, periklanan, dan sarana rekreasi.  Unit-unit pengajaran khusus tentang pemakaian seni rupa dalam kehidupan sehari-hari juga didirikan di berbagai sekolah. Program kemasyarakatan ini menyelenggarakan seminar dan pameran sembari memberi bimbingan kesenirupaan kepada warga kota, tokoh pengusaha, dan pejabat secara individual. Semangat proyek Owatonna masih dapat dijumpai pada pendidikan seni rupa modern ini, perencanaan lingkungan, periklanan, arsitektur dan bidang lain.
loading...

0 comments:

Post a Comment