Tuesday, 2 December 2014

Sejarah Munculnya Pendidikan Seni Rupa

Seni rupa merupakan salah satu bidang seni yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat. Sebagian besar urusan manusia pasti berhubungan dengan seni rupa. Mulai dari desain rumah dan perabotan didalamnya sampai dengan kemasan produk yang kita gunakan sehari-hari, semua itu pasti berhubungan dengan seni rupa. Oleh karena itu muncul gagasan untuk memasukkan seni rupa ke dalam kurikulum pengajaran formal. Munculnya pendidikan seni dibagi atas beberapa tahapan yang akan dijelaskan dibawah ini.

Masa 1870-1920
Seni Rupa sebagai kecakapan menggambar

Sejarah Munculnya Pendidikan Seni Rupa Pada awal tahun 1870-an sekelompok industriawan di Massachusets mendesak lembaga pembuat hukum negara untuk menjadikan menggambar sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. Mereka menyadari bahwa sangat dibutuhkannya juru gambar dan desainer jika ingin produk Amerika dapat bersaing di pasaran. Walter Smith, orang Inggris yang didatangkan ke Amerika untuk mengembangkan mata pelajaran wajib seni rupa pertama dan untuk melatih para guru. Pelajaran yang disampaikannya mencerminkan keyakinan bahwa menggambar dan desain dapat dikuasai lewat mencontoh, latihan, dan praktik. Pelajaran pertama yang di berikan adalah membuat garis tanpa menggunakan penggaris, dilanjutkan dengan menggambar benda-benda dan ruang.

Dari tolak ukur pendidikan seni rupa saat ini, metode pembelajaran Smith dianggap sangat sempit. Warisan zaman Smith mungkin masih dalam bentuk buku kerja sistematis dan pengajaran langkah-langkah tepat yang sangat mengekang kesempatan anak untuk membuat keputusan artistiknya sendiri. Buku-buku mewarna dan lembaran kerja mencontoh atau menebali  gambar juga menghambat anak untuk mengekspresikan perasaan dan buah fikirannya.

Seni Rupa sebagai cermin Keagungan Budaya

Sejarah Munculnya Pendidikan Seni Rupa Sekitar peralihan abad ini, apresiasi seni rupa diperkenalkan dalam program pengajaran di sekolah. Buku teks “Telaah Lukisan” dalam beberapa jilid telah dapat dibeli orang, buku ini menekankan kebaikan dari kerja keras, kebaikan hidup, dan kesetiaan seperti yang diungkapkan dalam kehidupan seniman. Dengan demikian melalui paduan nilai-nilai tersebut peserta didik akan menjadi akrap terhadap karya seni rupa pada zaman Renaissance dan Romantik di Eropa abad 19. Nilai-nilai masa lalu masih sangat melekat pada masyarakat Amerika saat ini, apresiasi seni rupa dianggap masih terbatas pada kalangan atas saja.
Pendekatan apresiasi seni rupa saat ini sudah sangat beragam, secara umum peserta didik didorong untuk menggali arti pribadi dalam karya tersebut. Mereka ditenggelamkan dalam proses mengamati dan merumuskan penilaian  hakiki dari keberartian karya tersebut. Para pendidik seni rupa berupaya memperkenalkan siswa kepada para seniman dan karya-karya mereka yang terdapat pada galeri atau musium.

Seni Rupa sebagai Kerajinan  dan Tradisi Rakyat

Dalam masa sebelum dan sesudah tahun 1900, terjadi gelombang imigrasi terbesar di Amerika Serikat dengan banyaknya anak yang tidak pandai berbahasa Inggris. Dengan adanya hal tersebut sekolah memberikan program pengajaran khusus berupa pekerjaan praktis sehingga membuahkan sukses non-verbal pada anak. Persiapan pekerjaan dimulai dengan latihan kerja tangan seperti membentuk kerajinan kayu, logam, kulit, dan tanah liat. Memasak, menjahit, menyulam juga dikenalkan. Dengan berjalannya waktu latihan tersebut menjadi seni industri bagi anak, dalam kacamata program pendidikan seni rupa, kerajinan tangan tersebut mempunyai status yang berbeda yakni sebagai sarana atau kesempatan bagi pribadi anak untuk mendesain dan berekspresi.
Terlepas dari perubahan yang terjadi, sikap yang masih bertahan bahwa seni rupa adalah keterampilan kerja tangan, yang menganggap bahwa anak yang tidak berhasil dalam akademik lebih cocok kerja tangan dengan anggapan tidak menggunakan otak, yang saat ini anggapan tersebut merupakan anggapan yang sangat salah. 

Baca aktikel terkait:
loading...

0 comments:

Post a Comment