Thursday, 4 December 2014

Sejarah Pendidikan Seni Rupa Pertengahan Abad 20

Pada abad pertengahan ke-20, pendidikan seni mengalami sedikit perbedaan. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pengaruh tersebut bisa dikatakan mempunyai pengaruh baik pada perkembangan pendidikan seni rupa saat itu. Berbagai gagasan baru dimunculkan untuk merubah sudut pandang pendidikan seni rupa itu sendiri. Berikut penjelasannya:

Masa 1940-1960
Sejarah Pendidikan Seni Rupa Pertengahan Abad 20Sebagai akibat berkuasanya Hitler pada awal tahun 30-an, banyak pengungsi pindah ke Amerika, diantara para pengungsi itu adalah terdapat guru-guru dari Baushaus, sebuah perguruan tinggi desain di Jerman yang berupaya memadukan unsur keterampilan pengrajin dengan permintaan barang. Menurut filsafat pendidikan Baushaus para seniman sangat perlu menjelajahi watak bahan, dan mengadakan percobaan dalam berbagai bentuk untuk menyesuaikan produksi.  Para guru seni rupa di Amerika yang di bimbing oleh Baushaus menyimpulkan bahwa dalam upaya penekanan  Baushaus  pada berbagai macam percobaan yang sesuai dengan pendekatan Dewey.
Menjelang tahun 50-an bagi sebagian pendidik seni rupa telah kehilangan arah tentang hakekat bahan. Dalam praktik hanya sebagai improvisasi dari bahan, dan semakin banyak bahan yang digunakan maka semakin baik. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengeksplor bahan sebagai upaya eksperimen atau kreasi yang sebenarnya.  Kini hampir semua guru menyadari bahwa berkreasi dengan bahan yang tidak terbatas dapat ditentukan dengan improvisasi. Jika filsafat pendidikan Baushaus dipraktikkan dengan sungguh-sungguh, maka peserta didik akan melaksanakan eksperimen dengan cara yang ilmiah. Penemuan mereka akan menumbuhkan pengendalian dalam mencapai tujuan ekspresifnya, secara idealnya anak-anak akan menyadari keputusan kata hatinya dalam mendesain karya seni mereka dan mampu mengaplikasikan penemuannya di lain waktu.

Pendidikan Seni Rupa pada Perang Dunia II    
Selama perang kegiatan seluruh bangsa Amerika dicurahkan demi kemenangan perang. Pendidik seni rupa mengutarakan pendapat yang harus dimiliki oleh warga negara dan menganjurkan pertumbuhan pribadi yang utuh sebagai bentuk penyembuhan akibat perang yang akan berlangsung dikemudian hari.  Bentuk-bentuk seni rupa merupakan alat yang efektif untuk mengkomunikasikan ide dan kepercayaan, pada waktu itu guru mencari cara untuk membantu anak memahami manfaat dan penyimpangan dari bentuk visual sebagai pembentuk sikap masyarakat, sperti iklan, desain produk dan lambang visual lainnya.

Seni Rupa Sebagai Kegiatan Pengembangan Jiwa Anak
Sejarah Pendidikan Seni Rupa Pertengahan Abad 20Setelah Perang Dunia II, pendidikan seni rupa mulai mempertimbangkan adanya kemampuan manusia untuk memanusiakan manusia sebagai upaya penyembuhan setelah perang. Untuk menjadikan dunia damai, tergantung pada upaya pengembangan kemampuan kreatif manusia melalui kebebasan ekspresi. Para pendidik seni rupa percaya bahwa proses intelektual, emosional, jasmani dan kreatif yang terlibat dalam pembuatan karya seni rupa dapat membantu anak dalam mencapai bentuk pribadi yang utuh. Dengan demikian, pemikiran yang menonjol dalam pendidikan seni rupa setelah Perang Dunia II adalah menjadi suatu upaya pengembangan jiwa anak melalui ekspresi pribadi yang kreatif. Saat ini filsafat itu disebut wawasan developmental yakni dalam proses pemberian bentuk visual pada pengalamannya, keseluruhan pribadi anak akan bertindak secara aktif.  Dengan kata lain, dengan begitu sempurnanya integrasi yang terjadi antara fikiran, perasaan, tujuan, dan tindakan yang efektif sehingga proses penciptaan karya seni memberi sumbangsih bagi kedewasaan pribadi anak.

Seni Rupa Sebagai Tindakan Kreatif
Pada tahun 1950 akhir, mulai terjadi perlombaan ruang angkasa yang menimbulkan minat hubungan antara kreatifitas artistik dan kreativitas umum sampai pada puncaknya. Beberapa pendidik seni percaya akan pentingnya hubungan itu dalam kehidupan secara umum, terutama di bidang metematika dan ilmu pengetahuan. Berbagai pihak telah membenarkan pengembangan kreatifitas melalui seni rupa, para pendidik seni rupa menyatakan bahwa krestifitas sebagai ciri pendidikan yang diinginkan karena tingkah laku kreatif selalu menunjukkan perbuatan yang baik, sebagai contoh Einstein dan Hitler yang terhitung sebagai orang yang kreatif di abad tersebut.
loading...

0 comments:

Post a Comment