Tuesday, 2 December 2014

Sistem Pendidikan Seni

Sistem Pendidikan SeniBanyak cara yang dilakukan untuk menyampaikan “seni” kepada orang lain, dan masing-masing individu mempunyai cara, proses, dan evalusasi yang berbeda terhadap hal itu. Dalam hal ini sangat erat hubungannya dengan sistem pendidikan seni  yang digunakan oleh pendidik seni atau seniman untuk menyampaikan ilmu mereka kepada peserta didik. Secara umum terdapat 3 sistem pendidikan seni yang umum dilakukan, yaitu sistem pencantrikan, sistem akademik, dan sistem sanggar.

Sistem Pencantrikan
Dalam masyarakat yang paling sederhana pada masa awal peradaban manusia ibu melatih anak perempuannya untuk beercocok taman, ayah melatih anak laki-lakinya untuk berburu merupakan bentuk pendidikan tertua. Pendidikan orang tua kepada anaknya untuk mempersiapkan hidup mereka pada hakekatnya masih berlangung sampai saat ini, sekalipun bentuk, cara, dan kwalitas tujuannya berbeda. Dalam masyarakat yang telah mengenal peradaban lebih maju, mereka telah mampu memandang hidup tidak hanya lewat kacamata survival, melainkan pandangan yang lebih luas. Pendidikan orang tua kepada anaknya tidak terbatas pada pemberian materi yang bernilai praktis, melainkan juga nilai yang idealis.
Pemberian keterampilan khusus yang dimiliki orang tua seringkali  didasarkan pada motif rasa bangga, dalam hal anaknya akan menjadi penerusnya. Contohnya seorang seniman wayang atau Dalang akan melatih anaknya terus-menerus demi menjadikan anaknya sebagai Dalang juga nantinya. Penyerahan keterampilan ini seringkali tidak berjalan dengan wajar, karena cita-cita ideal si ayah tidak dapat diterima oleh anak. Penolakan biasanya terjadi setelah pandangan hidup anaknya berubah, dia mempunyai hak untuk menentukan tujuan hidupnya sendiri tanpa terikat oleh orang lain sesuai dengan keterampilan, bakat dan minat di bidang seni yang lain.
Mengingat pada sistem pencantrikan yang berperan sebagai guru adalah seniman, banyak murid yang terkadang kurang merasa nyaman karena cara mengajar yang terkadang bersifat militer. Sehingga pelajar yang motivasinya kurang kuat akan gagal, sedangakan bagi siswa mempunyai motivasi yang kuat serta rasa kagum yang mendalam terhadap gurunya (seniman), akan berhasil nantinya yang dianggap mampu membawakan faham seni si pengajar.

Sistem Akademik


Sistem Pendidikan SeniPertumbuhan peradaban ditandai dengan munculnya seni dalam kehidupan masyarakat, perjuangan untuk mempertahankan hidup (survival) yang dilakukan oleh manusia purba seperti berburu dianggap kejam terhadap alam. Hal tersebut mendorong manusia untuk melakukan perbuatan yang lebih artistik, dengan diperkuat oleh kesadaran magis yang dituangkan di dinding-dinding gua, pada alat berburu atau dituangkan dalam wujud gerakan tubuh seperti tari perang dan tari persembahan.
Dalam perkembangannya ungkapan perasaan tertuang dalam dunia religi dan dibarengi dengan munculnya sistem kerajaan. Para seniman saat itu ditugaskan untuk menjadikan kerajaan menjadi lebih indah, oleh karena itu raja memberi imbalan bahkan bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Berhubung dengan itu, raja mendirikan pusat pendidikan seni untuk mencari seniman-seniman baru yang mula-mula dengan sistem cantrik yang kemudian lebih sistematik yaitu akademi seni. Akademi seni pertama kali berdiri di Italia pada abad ke-13 tetapi hanya untuk kalangan atas. Setelah zaman Renaisance abad 14-15 seni menjadi milik semua orang, setiap orang mempunyai artisitik yang orisinil dalam menginterpretasikan apa saja yang dikerjakan. 
Pada abad ke-20 konsumsi seni mulai meningkat, oleh karena itu munculah perekrutan seniman dalam bentuk-bentuk sekolah tingkat menengah atau universitas yang mengikuti pola akademi. Konpetensi pengajar, kapasitas calon pelajar dan kurikulum telah ditetapkan standarnya dengan tujuan pendidikan untuk menyiapkan seniman atau pekerja seni/pengrajin

Sistem Sanggar    

Sistem Pendidikan SeniOrang-orang Eropa yang masuk ke Amerika bekerja sebagai pengamen seni, mereka menggambar potret-potret menurut pesanan mulai dari desa sampai ke kota. Melakukan pameran-pameran ke berbagai tempat kemudian bertemu dengan sesama seniman dengan menukar pengalaman dan ide mereka. Di Indonesia sendiri perjalanan seniman hampir sama, mereka mendirikan sanggar-sanggar di berbagai daerah di Jawa khususnya Yogyakarta. 
Waktu itu Indonesia belum ada lembaga formal dalam pendidikan seni, maka sanggar yang berperan penting untuk menghimpun para seniman untuk merekrut generasi muda yang tertarik terhadap seni. Baru setelah merdeka berdirilah ASRI dan ITB. Sebagai pusat pendidikan sanggar menyelanggarakan proses belajar-mengajar secara informal, suasana bebas, berpusat sepenuhnya pada pelajar. Bertujuan untuk menyiapkan calon-calon seniman yang tidak dapat diterapkan pada sistem pendidikan umum.    

itulah beberapa sistem pendidikan seni yang terbagi atas 3 sistem yang masing-masing memiliki kelebihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Saat ini pendidikan seni lebih mendapat perhatian sehingga dapat disampaikan di sekolah mengingat fungsi dari pentingnya pendidikan seni tersebut, salah satunya untuk membentuk kepribadian peserta didik.  
loading...

0 comments:

Post a Comment